Denpasar, Kompas - Pemerintah Kota Denpasar bersama Yayasan Pembangunan Sanur dan Bali Medianet meluncurkan pelayanan integrasi sistem pengawasan dengan memasang 18 kamera closed circuit television. Alat pemantau itu dipasang menyebar di sekitar Pantai Sindhu, Pantai Matahari Terbit, dan beberapa ruas jalan di kawasan wisata Pantai Sanur, Kota Denpasar.
Hal tersebut merupakan bagian dari upaya pengembalian kepercayaan terhadap pariwisata Pulau Dewata pascapeledakan bom Kuta dan Jimbaran, 1 Oktober 2005. Peledakan bom oleh teroris kelompok Noordin M Top dan Dr Azahari mengakibatkan guncangnya industri pariwisata Bali, karena wisatawan khawatir terhadap keselamatan mereka.
Peluncuran pelayanan tersebut digelar di Griya Santrian, Sanur, Rabu (8/2). Pada peluncuran perdana itu juga diperagakan simulasi perampokan dan dapat dipantau oleh kamera closed circuit television (CCTV).
Pemasangan CCTV di 18 lokasi itu menelan biaya Rp 1,5 miliar. Pemerintah Kota Denpasar memberikan kontribusi sebesar Rp 500 juta yang diambil dari dana APBD tahun 2005. Selanjutnya, pengelolaannya diserahkan kepada YPS.
Meskipun demikian, pemantauan dengan CCTV itu tetap melibatkan polisi. Pengoperasian seluruh kamera dipusatkan pada satu operator. Operator melanjutkan hasil pemantauan kamera itu ke Kepolisian Sektor Denpasar Selatan. Polisi pun dapat memantau melalui layar komputer yang telah disambungkan ke operator.
Wali Kota Denpasar AA Ngurah Puspayoga mengatakan rencananya pemasangan CCTV akan berkelanjutan. "Kami berharap berbagai tempat publik dan strategis dapat dipasangi CCTV, juga di seluruh Denpasar ini," kata Puspayoga.
Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Soenarko DA menyambut baik pemasangan CCTV itu. Dia mengharapkan rekaman dapat disimpan lebih dari seminggu. Alasannya, pemantauan melalui kamera tersembunyi tidak hanya semata kepentingan pengamanan, tetapi rekaman juga dapat digunakan untuk pengusutan suatu kasus, baik di Bali maupun di luar Bali. (AYS)